Monday, April 17, 2006

Long Long Wiken

Bagi para pekerja, minggu lalu merupakan minggu yang singkat karena cuma ada 3 hari kerja: Selasa, Rabu, dan Kamis. Senin 10 April libur Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, sedangkan Jumat 14 April libur Jumat Agung. Jadi ada 2 long wiken!! Asyik kan?! Terus ngapain aja yah kami selama 2 long wiken itu? Well, please take a deep breath 'cause this will be a very long long story!! :D

LONG WIKEN I: 7-10 April 2006

Long Wiken I ini meski acara kami padat, tapi bukan padat karena liburan, melainkan karena 2 gawe besar keluarga Hardjo Suwito alias Mbah Hardjo. Yang pertama acara wisuda Bulik Wur dari Jurusan Studi Pembangunan (Ini kalo nggak salah. Kalo salah ya maap ya Bulik Wur, hehehe...) Universitas Wangsa Manggala (Unwama) Jogjakarta. Yang kedua acara Ujian Masuk UGM ato UM UGM yang diikuti oleh Bulik Ning, adik Bapak yang bungsu.

Dua acara ini boleh dibilang kontradiksi karena yang satu acara hepi2, sedangkan yang satu lagi acara seurieus karena menyangkut masa depan bangsa dan negara (baca: Bulik Ning, hehe..)! Selain itu, Bapak juga ikut jaga UM UGM dari pagi sampai sore.

Jumat, 7 April 2006

Sekitar jam 7 malam, Bapak, Ibu, dan Ene meluncur ke rumah Bulik Prie untuk menjemput Bulik Ning yang sore itu bersama Mbah Hardjo kakung-putri baru tiba dari Manggis naik bis.

Skenarionya, Mbah Hardjo kakung-putri tidur di rumah Bulik Prie sementara Bulik Ning 'dipingit' di Kaliurang. Maksudnya biar Bulik Ning tidak terganggu pembicaraan menyangkut wisuda Bulik Wur. Alasan lain, di rumah Bulik Prie ada 2 kurcaci (Salma dan Yusuf) yang berpotensi menjadi 'disturbance', sementara di Kaliurang hanya ada 1 kurcaci (Ene) yang punya potensi yang sama :) Uka tidak lagi masuk kategori ini karena sudah bisa diajak omong dan diberi pengertian. Thanks ya Uka!

Oya, Uka nggak ikut menjemput Bulik Ning karena asyik dengan aktivitasnya sendiri. Sekarang Uka memang tidak selalu mau diajak pergi. Biasanya dia akan nanya detil kemana perginya. Kalo sekiranya tidak ada kemungkinan buat dia untuk bermain ato beli mainan, Uka akan menolak untuk ikut! Apalagi sekarang Uka lagi hobi menggambar ato kalo nggak ya main2 dengan temen2 di lingkungan rumah yang kebetulan banyak yang seumur dan sejenis kelamin. Hihihi.. yang terakhir ini istilah yang nggak umum. Maksudnya, temen2 main Udane di rumah banyak cowoknya!

Ibu sih bisa maklum dengan hal ini karena Uka memang sudah bertambah besar dan sudah punya mau dan keasyikan sendiri. Cuma, untuk Mbah Hardjo tentunya ada yang kurang dengan ketidakhadiran Uka. Uka belum ngeh kalo dia dikangeni mbah2nya meski seminggu sebelumnya kami sempat main ke Manggis beberapa hari. Dan benar saja, seperti yang sudah Ibu duga, sesampai di rumah Bulik Prie, pertanyaan pertama dari Mbah Hardjo adalah kenapa Uka nggak ikut? Hehehe...

Jangankan Mbah Hardjo yang memang jarang ketemu Uka, Bapak aja yang setelah kami berkumpul di Jogja sudah bisa ketemu Uka tiap hari masih suka berat hati kalo Uka menolak diajak menemani keluar rumah karena lagi asyik dengan sesuatu :D Dan jangankan Uka, Ene aja sudah mulai menolak diajak pergi2 kalo lagi asyik main dengan temen2nya! Hehehe... Buat Bapak, rasanya ada yang kurang kalo pergi2 (yang bukan untuk tujuan kerja) tidak diikuti kedua kurcacinya :D

Sabtu, 8 April 2006

Rencana semula, kami mau nengok ruang ujian Bulik Ning dulu (biar keesokan harinya nggak ter-buru2) sebelum meluncur ke kampus Bulik Wur sekitar jam 11 dengan perkiraan saat itu seremonial wisuda sudah selesai. Tapi ternyata seremonialnya lebih cepat dari yang diperkirakan sehingga Mbah Hardjo kirim sms supaya kami ke acara wisuda dulu.

Jam 9 kami meluncur ke kampus Bulik Wur yang letaknya lumayan jauh dari Kaliurang. Unwama terletak di jalan raya menuju Wates (sejauh yang Ibu ingat hehe..). Yang jelas perjalanan ke sana hampir 1 jam padahal lewat ring road yang relatif nggak macet!

Sampai di sana seremonial sudah selesai dan keluarga sudah berkumpul semua. Ada Bulik Prie sekeluarga serta Bulik Iis dan Bulik Iin (putri2 Mbah Sri, adik Mbah Hardjo putri) yang juga kuliah di Jogja. Nggak lama, Mbah Hardjo kakung-putri serta Bulik Wur keluar dari ruang seremoni.

Setelah foto2 sampai gigi kering karena 'meringis' terus (terutama berlaku buat Ibu yang selalu 'pamer gigi' kalo difoto karena kalo mingkem nggak merasa cakep hahaha...), kami lantas meluncur ke Hartz Chicken Buffet di Jl. Magelang Km5 No.119 untuk makan siang sekaligus merayakan wisuda Bulik Wur. Alasan Bapak memilih resto ini sederhana. Bapak sudah sering makan2 di sini bareng dosen, mahasiswa, bahkan temen2 kos, tapi justru belum pernah ngajak keluarga! :D

Konsep Hartz Chicken Buffet adalah all you can eat and drink for just Rp40,000 for adult and Rp25,000 for children (including tax). Syaratnya makanan dan minuman di situ nggak boleh dibawa pulang dan apabila ada makanan yang berlebih yang tidak dimakan akan dikenai harga sesuai tarif menu tersebut. Ini hal yang wajar untuk menghindari orang2 yang kemaruk dan lupa diri hehe..

Menu yang disediakan di sini sangat bervariasi. Ada buffet soup & salad, buffet minuman mulai dari soft drink, coffee & tea, es krim sampai cocktail yang bisa diramu sendiri campurannya. Juga ada buffet cake & pastry serta buffet main course yang terdiri dari makanan yang berkarbohidrat (seperti nasi goreng, mashed potatoes, spaghetti dll.) dan makanan berprotein hewani (Ibu nggak ingat jenisnya apa aja karena nggak mencicipi yang ini. Ibu terlanjur kenyang dengan cake & pastry hehe..). Terus ada satu buffet lagi untuk makanan yang freshly fried seperti ayam goreng, nuggets, onion rings, dll. Overall, menurut Ibu, cita rasa makanan di sini sebenarnya nggak terlalu istimewa, tapi suasananya sangat cocok untuk bersantap bersama keluarga karena tempatnya nyaman (ber-AC dan nggak umpel2an) dan pelayanannya baik. Udane serta Salma dan Yusuf bisa berlarian ke sana sini tanpa mengganggu orang lain. Di sini disediakan juga ruang tersendiri buat yang punya hajat khusus bersama para undangan.

Selesai makan, Bapak, Ibu, Bulik Ning, dan Udane lantas ke UGM untuk nyari ruang tes, sementara yang lain menuju ke tujuan masing2. Bulik Ning kebagian tes di ruang Fakultas Filsafat. Ibu baru kali itu ke fakultas ini dan ternyata suasananya sangat berbeda dengan di Fakultas Teknik tempat Ibu ngajar. Di sepanjang sisi lantai dasar gedung2 kuliah di Filsafat ada tembok2 rendah (bahasa Jawa: badhug) yang bisa untuk duduk2 sambil diterpa angin semilir dan diteduhi pohon2 rindang di sekitar gedung. Hal ini beda dengan lingkungan Fakultas Teknik yang relatif gersang. Ini mungkin karena gedung2 Fakultas Teknik dibangun belakangan, bukan termasuk bangunan tua di UGM, jadi konsepnya beda.

Oya, Bulik Ning ikutan tes kelompok IPA. Pilihannya: 1. Teknik Kimia (almamater Bapak); 2. Teknik Fisika (dulu Ibu kuliah di jurusan ini juga, tapi di ITS); dan 3. Pertanian (almamater Bulik Iis). Jadi ketiga pilihan Bulik Ning memiliki referensi keluarga. Entah apakah ini disengaja Bulik Ning, yang jelas kalo Bulik Ning ditanya tentang hal ini, jawabannya hanya senyum simpul :) Dan Bulik Ning nggak mau memilih Teknik Mesin ato Teknik Industri dengan alasan nggak tertarik. Ato jangan2 dia risi kalo diajar kakak sendiri ya? Hehe..

Minggu, 9 April 2006

Ibu bangun lebih pagi dari biasanya untuk nyiapin sarapan Bapak dan Bulik Ning yang harus berangkat paling lambat jam 6 pagi. Maklum, perjalanan dari rumah ke UGM sekitar setengah jam. Belum lagi khawatir kena macet di sekitar kampus kalo berangkat kesiangan. Di musim UM UGM gini, area sekitar kampus sangat padat!

Sekitar jam 9 pagi, Ibu dapat sms dari Bapak. Bapak nulis kalo ada peserta UM UGM yang tertidur di ruang ujian! Hah?! Kok bisa? Ibu sms balik, apa nggak dibangunin? Jawaban Bapak, udah. Ah ada aja! Kasihan memang kalo nggak dibangunin. Tentunya peserta tersebut sudah berupaya sedemikian rupa untuk ikut ujian, masak pas hari pelaksanaannya justru terlewatkan begitu saja. Belakangan Bapak cerita, sepertinya peserta tersebut baru datang dari luar kota karena tampak lelah. Memang UM UGM hanya diselenggarakan di 9 kota di Indonesia termasuk Jogja, jadi banyak yang langsung datang dari luar kota. Peserta tahun ini tidak kurang dari 32 ribu orang, sementara kursi yang diperebutkan hanya sekitar 6000! Kebayang kan betapa susahnya mendapatkan pendidikan tinggi yang bermutu dan relatif murah di negara ini!

Bulik Ning selesai ujian jam 2 siang dan langsung pulang ke Kaliurang naik angkutan umum. Ide Ibu untuk menjemput Bulik Ning naik motor ditolak Bapak mengingat kemacetan di seputar UGM. Ntar bukannya bisa cepat pulang, yang ada malah saling cari :) Sementara Bapak baru selesai bertugas jam 4 sore karena masih harus nunggu yang ujian IPC (IPA+IPS). Itupun Bapak masih harus nunggu dulu sampai jalanan tidak terlalu padat.

Kata Bulik Ning, pengumuman UM UGM baru nanti awal Juni 2006 (Ibu nggak ingat persis tanggalnya, yang jelas setelah pengumuman kelulusan SMU). Semoga aja Bulik Ning bisa diterima di UGM mengikuti jejak Bapak, Paklik Pangat, Bulik Prie, dan Bulik Iis. Amin.

Senin, 10 April 2006

Hari ini rencananya mau ngajak jalan2 Bulik Ning ke Malioboro untuk refreshing sebelum balik ke Manggis sore harinya. Tapi ternyata sekitar jam 10 pagi kami kedatangan tamu istimewa, yaitu Bu Nur, mantan ibu kos Bapak semasa tinggal di Pogung Baru. Bu Nur ditemani kedua putra dan salah satu menantunya.

Ini benar2 surprise (dan sedikit bikin grogi plus pekewuh, terutama buat Bapak, hehe..) karena kami sebagai yang muda malah belum sempat sowan ke rumah beliau. Apalagi pas ngambil barang2 di kos terakhir kali bulan Januari lalu, Bapak nggak sempat pamit Bu Nur karena beliau saat itu lagi ke Jakarta. Setelah itu, Bapak beberapa kali mampir ke rumah Bu Nur sepulang kerja tapi nggak pernah ketemu.

Bu Nur, meski usianya sudah berkepala 6 tapi kesibukannya cukup tinggi. Selain sibuk dengan bisnis batik Pekalongan dan beberapa bisnis lainnya, beliau juga sibuk dengan aktivitas sosial. Dan karena kesibukan beliau itu, kami sama sekali nggak menyangka bahwa Bu Nur bakal menyempatkan diri untuk menengok kami.

Setelah Bu Nur sekeluarga pulang, kami akhirnya jadi juga jalan2. Tapi karena sudah agak kesiangan padahal Bulik Ning harus pulang ke Manggis sore itu juga, kami akhirnya nggak jadi ke Malioboro melainkan ke Gramedia dilanjutkan makan siang di Dunkin' Donuts, di sebelah Gramedia. Setelah itu kami langsung ke terminal bis Jombor untuk ngedrop Bulik Ning.

Di Gramedia, selain beli buku2 dan alat2 tulis Udane, Ibu juga beli Buku ke-1 dari trilogi Klan Otori yang berjudul Across The Ningtingale Floor karya Lian Hearn, atas rekomendasi Tante Weni. Menurut info di buku tersebut, buku pertama dari trilogi yang sangat fenomenal ini telah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa dan memperoleh 11 penghargaan dari berbagai negara. Buku ke-2 dan ke-3 maing2 berjudul Grass for His Pillow dan Brilliance of The Moon.

Meski Tante Weni sudah kasih rekomendasi 'very good' untuk trilogi ini, bahkan sudah membeli lengkap serinya (PS: Untuk Om Bambang & Tante Liena, jangan pinjem bukunya Tante Weni lho... Beli sendiri!! Hehehe..), tapi Ibu agak menahan diri dulu untuk memborong sekaligus ketiga seri trilogi tersebut. Bukannya Ibu nggak percaya dengan rekomendasi Tante Weni (hehehe...) cuma nggak percaya apakah Ibu bisa segera menyelesaikannya. Karena meski sekarang ini Ibu nggak kerja full time seperti dulu, tapi rasanya kok waktu masih terasa kurang terus ya? Apa karena dasarnya manusia itu nggak pernah puas? Hahaha... Dan benar saja, sampai sekarang novel tersebut belum tersentuh karena Ibu terlanjur asyik duluan membaca biografi K. H. A. Mustofa Bisri alias Gus Mus.

LONG WIKEN 2: 14-16 April 2006

Jumat, 14 April 2006

Pagi nggak ke-mana2, kecuali Bapak dan Uka pergi Jumatan ke masjid di belakang rumah.

Sepulang Jumatan, Udane main dengan temen2 di sekitar rumah. Ada kakak-adik Brian (kelas 2 SD) dan Dimas (Play Group) yang rumahnya persis di sebelah kanan rumah kami, ada Christo (kelas 4 SD), dan ada Deni ( kelas 3 SD). Biasanya juga ada Boske (kelas 5 SD), Bagas (kelas 2 SD), dan Almer (satu sekolah dan sekelas dengan Uka) tapi siang itu Boske dan Almer nggak muncul, sementara Bagas sedang liburan di Balikpapan, tempat mama dan papanya bertugas sebagai dokter (Bagas tinggal di Jogja dengan opa dan om-nya). Selain itu, masih ada Chacha (kelas 1 SD, adik Christo) dan Neta (kelas 3 SD, kakak Brian dan Dimas), tapi kedua cewek manis ini lebih banyak main di rumah masing2 seperti pada umumnya anak perempuan.

Temen2 Udane yang disebut di atas sekarang ini menjadi 'center of the world'-nya Udane. Kalo sudah main dengan mereka, wah... Udane nggak ingat lagi sama Bapak dan Ibu. Kalo dipanggil pulang karena sudah waktunya makan ato mandi ato memang karena sudah magrib, selalu saja ditanggapi Udane dengan cemberut, bahkan kadang2 marah! :D

Perkembangan ini pada dasarnya menggembirakan Bapak dan Ibu, mengingat semasa tinggal di Cilegon, Bapak dan Ibu justru agak susah mendorong Uka untuk beraktivitas di luar rumah. Uka lebih suka nonton film2 kartun di TV. Ibu juga nggak tau persis penyebab perubahan ini. Mungkin karena pola bermain anak2nya yang berbeda. Di Cilegon (at least di kompleks kami tinggal dulu), Ibu perhatikan anak2 biasanya hanya keluar rumah sore hari, itupun paling banter hanya 2 jam karena begitu menjelang magrib sudah balik ke rumah masing2. Di Jogja (inipun at least di perumahan tempat kami tinggal sekarang), anak2nya nggak mengenal yang namanya tidur siang, jadi begitu pulang sekolah ya langsung nyamperin temen2 sekitar untuk diajak main.

Pernah suatu siang menjelang sore, di bulan pertama kami tinggal di Jogja, Uka lagi main di sekitar rumah dengan temen2nya yang saat itu bersepeda semua (Uka belum bisa naik sepeda meski punya sepeda hehe..). Nggak lama kemudian, Ibu mendapat laporan dari Yuk yang nungguin Udane main, katanya Uka pergi dengan temen2nya ke area Tahap IV dari perumahan yang sama dengan tempat kami tinggal (kami di Tahap I). Masalahnya, temen2nya pada naik sepeda sementara Uka lari2 mengikuti di belakang mereka! Tahap IV bersebelahan dengan Tahap I, tapi ya lumayan jauh kalo harus ditempuh dengan lari2! :D Ibu lantas minta tolong Yuk untuk nyusul Uka. Berikutnya sesampainya Yuk dan Uka di rumah, Yuk cerita kalo setibanya dia di Tahap IV saat nyusul Uka, ternyata Uka lagi melangkah gontai sendirian, balik menuju rumah. Temen2nya entah pada kemana (mungkin sudah balik duluan naik sepeda). Wajah Uka tampak legam dan penuh keringat! Ibu rasanya nggak tega melihat Uka seperti itu, tapi Uka sendiri ternyata hepi2 aja bahkan dengan bangga mengatakan bahwa dia habis olahraga! Dia sama sekali nggak mempermasalahkan temen2nya yang meninggalkannya seorang diri. Uka.. Uka..!!! Karena kejadian ini, Ibu lantas mengusulkan supaya Uka belajar lagi naik sepeda sampai bisa, tapi ternyata usul ini ditolak mentah2 oleh Uka. Alasannya dia takut jatuh! :D

Entah apakah karena aktivitas fisik Uka yang berubah secara drastis antara di Cilegon dan di Jogja (sekolah dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang, dilanjut main dengan temen2 di rumah), selama dua bulan pertama tinggal di Jogja Uka jadi langganan dokter. Beberapa kali dia panas tinggi dan akibatnya nggak masuk sekolah. Kalo ditotal hari2 Uka nggak masuk sekolah, ada sekitar 2 minggu. Yang terakhir bahkan Uka sempat diambil darahnya karena kami khawatir Uka kena DBD ato tipus (di Jogja lagi ada wabah DBD). Alhamdulillah bukan kedua penyakit itu penyebabnya, tapi dari hasil lab ternyata Hb Uka rendah. Menurut dokter, biasanya hal ini disebabkan cacingan, jadi Uka dikasih obat cacing. Meski bersyukur karena Uka bukan kena DBD ato tipus, tapi dalam hati Ibu agak tengsin (malu hehe..) kok bisa Uka kena penyakit yang berhubungan erat dengan sanitasi! Gimana sih ibunya? Pasti jorok deh, hahaha...

Balik ke cerita long wiken (Hihi.. dongengnya ngalor ngidul ), sore harinya Bapak dan Ibu pergi berdua (Hal yang sangat juaraang terjadi! Udane nggak mau ikut karena lagi asyik main di rumah Brian dan Dimas) untuk nyari HP baru buat Bapak. Alasan Bapak, mau nyari HP yang ada kameranya at least 1 Mpixel. Alasan lain yang tidak disebut, menurut Ibu, adalah karena Bapak sudah bosan dengan HP lama, hehe.. Akhirnya Bapak mendapat HP baru Samsung SGH-X700. HP yang lama rencananya akan dilungsurkan (dihibahkan) ke Yang Nuk. Kebetulan sekali beberapa hari sebelumnya Ibu mendapat kabar kalo HP yang Nuk sudah rusak, nggak bisa diperbaiki lagi. Kata Bapak, beli HP baru selain menyenangkan diri sendiri juga menyenangkan mertua, jadi pahalanya dobel, hahaha...

Sebenarnya Ibu menyarankan Bapak untuk beli Nokia seperti Ibu dengan pertimbangan kalo pergi ke luar kota bareng cuma perlu bawa satu charger, jadi nggak ribet. Selain itu, kalo sama2 Nokia, Ibu nggak perlu bingung lagi dengan tombol2 yang berbeda (terutama buat sms) kalo harus pake HP Bapak. Ini karena Bapak sering minta tolong Ibu untuk membalas sms yang masuk ke HP Bapak di saat Bapak sedang nyetir. Biasanya kalo gitu Ibu jadi nunak-nunuk! Eh.. apa ya bahasa Indonesianya? Grothal-grathul? Ala.. ini juga bahasa Jawa, hahaha... Pokoknya jadi gak lancar! Sayangnya Bapak kurang sreg dengan model Nokia yang mempunyai fitur kurang lebih sama dengan SGH-X700 (kalo nggak salah Nokia seri N3230) karena kesannya ABG banget hehe..

Sabtu, 15 April 2006

Pagi nggak ke-mana2.

Sore belanja di supermarket Diamond di Saphir Square, Jl. Solo. Udane seneng belanja di sini karena selain tempatnya luas, juga ada trolley khusus untuk anak2 yang berbentuk mobil2an. Biasanya Ibu bawa keret dorong sendiri yang biasa sementara Udane dan Bapak muter2 pake trolley ala Bob the Builder (Ini istilah Udane untuk trolley tersebut sesuai salah satu tokoh kartun kesenangan mereka).

Pulangnya kami makan bebek goreng Cak Koting, kalo nggak salah di Jl. Wahidin. Ini bukan resto, tapi warung terbuka di pinggir jalan yang cuma buka di malam hari. Meski demikian, larisnya bukan main! Kalo kemalaman dikit aja (sekitar jam 8) bisa dipastikan menu bebek goreng sudah habis, yang ada cuma ayam goreng dan beberapa menu lain. Jam 9 malam, biasanya sudah tutup karena dagangannya sudah habis!

Minggu, 16 April 2006

Pagi nggak ke-mana2.

Sore jam 15.30 Ibu ada undangan silaturahmi dan arisan ibu2 RT. Ibu baru ikutan sekarang karena ada bukaan baru. Ssstt... se-umur2 baru kali ini Ibu ikutan arisan. Nggak besar sih, cuma Rp25.000,- per bulan karena yang lebih dipentingkan adalah acara kumpul2nya untuk menjaga tali silaturahmi. Selesai arisan, acara dilanjut nengok salah seorang ibu di RT kami yang baru saja melahirkan putra pertamanya.

Sampai di rumah, wah... Ibu langsung ditubruk Ene. Kata Bapak, tadi Ene nanyain Ibu melulu. Bapak sampai heran dengan perubahan ekspresi Ene setelah Ibu pulang, dari yang tadinya manyun jadi sumringah! Tadinya sih Ibu mau ngajak Ene arisan, tapi eh.. malah ditolak sama Ene karena dia lagi asyik main. Setelah bener2 Ibu tinggal baru dia nyari2 hehe.. Kata Bapak, Ibu sudah berhasil 'menancapkan kekuasaan' terhadap Udane! Hahaha... namanya juga seorang ibu.

3 Comments:

  • aaahhhh.... ntar dulu... peregangan otot dulu...
    panjang bgt gitu loh postingannya :D

    ijinkan aku ketawa dulu ya sblm komen krn berusaha membayangkan wajah yang nggak cakep kalo mingkem ! huahahahahahhaa
    apalagi kalo sang pemilik wajah itu terlihat nunak-nunuk mengetik sms di hp baru hahahaha.

    wah bener2 niat mbak posting ceritanya hehe. jd sekarang ikut arisan nih ? :D
    eh aku belum tamat lho trilogi kisah klan otori-nya. asep malah yg udah tamat. aku msh baca buku ke-2 :D

    di jogja sabtu-minggu jalan2 terus ya hehe. kalo di clg kadang bosen bgt. mau ke gramed aja hrs ke karawaci hehe.

    duh maap segini dulu komennya hehe. apdet terus blognya ya mbak, janji ! :D aku mau meeting dulu nih, mr achwan udah muncul di pintu hehe.

    By Blogger Bunda Reva, at Thursday, April 20, 2006 3:17:00 pm  

  • waduh nggak disengaja ketemu blognya Bu Junita. Salam buat mas Uka, Mas Ene dan Pak Bagyo ya Bu.

    Kapan2 outbond lagi.

    By Anonymous Anonymous, at Friday, December 14, 2007 4:10:00 pm  

  • Makasih sudah mampir :)

    By Anonymous Ibune Udane, at Sunday, March 16, 2008 9:37:00 pm  

Post a Comment

<< Home